Senin, 21 Mei 2012

KONSEP NIAT DALAM BERIBADAH

Niat merupakan asas dasar bagi suatu ibadah dalam Islam. Sebab, baik-buruk dan sah-tidak suatu perbuatan atau ibadah akan mengikut pada niat. Sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya:

"Sesungguhnya setiap perbuatan itu harus diawali dengan niat, dan sesungguhnya setiap perbuatan bergantung pada yang diniatkan." (HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam setiap ibadah, posisi niat selalu diutamakan. Karena definisi dari niat itu sendiri adalah menyengaja melakukan suatu perbuatan yang dilakukan bersamaan diawal perbuatan tersebut, dalam hal ini diumpamakan sholat. Niat pada sholat dilaksanakan bersamaan dengan takbirotul ihrom. Maksudanya, seseorang yang hendak melaksanakan sholat pada saat melakukan takbirotul ihrom dalam hatinya diharuskan menyengaja atau menentukan sholat apa yang akan dilaksanakannya. Sebab tempatnya niat yaitu didalam hati, sedangkan melafalkan niat hukumnya sunnah. Hal ini berlaku juga pada setiap awal melaksanakan ibadah yang lainnya, yakni harus diawali dengan niat didalam hati.
Dalam kehidupan sehari-hari niat yang benar dapat mempengaruhi suatu perkara mubah menjadi suatu ibadah. Misalnya orang yang niat makan agar memperoleh kekuatan untuk melaksanakan ibadah dan orang yang istirahat setelah seharian bekerja lalu niat tidur agar diesok hari dapat melaksanakan sholat shubuh.
Namun syarat dari konsekuensi niat adalah melaksanakannya dengan amalan nyata, misalnya orang yang mencari ilmu dan komitmen didalamnya, maka niatnya tersebut adalah bagaimana mendapatkan ilmu tersebut dengan mengamalkan dan memahaminya, jika tidak melaksanakan hal itu dengan perilaku nyata dan penuh ketekunan, maka niat mencari ilmu tersebut sia-sia. Dan juga perilaku lainnya dapat disandarkan dengan niat mendapat ridlo dari Allah. Akan tetapi, ketika ada kemampuan untuk melaksanakan niat tersebut namun ia tidak melaksanakannya, maka niatnya itu sama sekali tidak berdampak apapun. Karena pada dasarnya, niat itu tidak berpengaruh dengan maksiat apapun. Sebagaimana sesuatu yang suci tidak akan berpengaruh pada sesuatu yang najis. Artinya, niat seseorang tidak dapat dikategorikan ibadah jika niatnya tersebut tidak disertai dengan kesungguhan akan melakukannya.




Sumber: Risalatul Mu'awanah

fb_like.jpg

FAKTA KEBESARAN MAKKAH

Semua orang pasti tahu ka'bah, yaitu dimana jutaan umat Islam merindukan untuk dapat berkunjung kesana sebagai tamu Allah. Kiblatnya umat Islam dalam melaksanakan sholat, dimanapun tempat dan daerahnya orang yang sholat pasti menghadapkan dadanya ke ka'bah.
Istilah ka'bah berasal dari Al Qur'an yaitu "ka'bun" yang berarti mata kaki atau tempat kaki berputar dan bergerak untuk melangkah. Dalam surat Al Ma'idah ayat 6 dijelaskan istilah itu dengan "Ka'baiin" yang berarti dua mata kaki, dan di ayat yang ke 95-96 mengandung istilah "ka'bah" yang artinya mata bumi atau sumbu bumi atau kutub putaran utara bumi.
Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Makkah adalah pusatnya planet Bumi. Fakta ini telah ditelitinya melalui sebuah penelitian Ilmiah. Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar bumi, dia berkata; "Planet bumi ternyata menggantung diarea yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya?"
Para astronot telah menemukan bahwa Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya dalam sebuah situs diinternet, tetapi sayangnya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut. Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat dikota Makkah, tepatnya berasal dari ka'bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite (tidak berujung), hal ini terbukti ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara ka'bah dibumi dengan ka'bah di alam akhirat.


MAKKAH PUSAT BUMI

Prof. Hussain Kamel menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat bumi.
Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar diseluruh dunia. Untuk tujuan ini, ia menarik garis-garis pada peta dan sesudah itu ia mengamati dengan seksama posisi ketujuh benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing.
Ia memulai untuk menggambar garis- garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang.
Setelah dua tahun dari pekerjaan yang sulit dan berat itu, ia terbantu oleh program-program dalam komputer untuk menentukan jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeda, serta banyak hal lainnya.
Ia kagum dengan apa yang ditemukannya, bahwa Makkah merupakan pusat bumi. Ia menyadari kemungkinan menggambar suatu lingkaran dengan Makkah sebagai titik pusatnya, dan garis luar lingkaran itu adalah benua-benuanya. Dan pada waktu yang sama, ia bergerak bersamaan dengan keliling luar benua-benua tersebut.

(Majalah Al 'Arabiyyah, edisi 237, Agustus 1978)
Gambar-gambar Satelit, yang muncul kemudian pada tahun 90-an, menekankan hasil yang sama ketika studi-studi lebih lanjut mengarah kepada topografi lapisan-lapisan bumi dan geografi waktu daratan itu diciptakan.
Telah menjadi teori yang mapan secara ilmiah bahwa lempengan bumi terbentuk selama usia geologi yang panjang, bergerak secara teratur disekitar lempengan Arab. Lempengan-lempengan ini terus menerus memusat ke arah itu seolah-olah menunjuk ke Makkah.
Studi ilmiah ini dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda, bukan dimaksud untuk membuktikan bahwa Makkah adalah pusat dari bumi. Bagaimanapun, studi ini diterbitkan di dalam banyak majalah sains di Barat.

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al Qur'an yang artinya sebagai berikut:

"Demikianlah Kami
wahyukan kepadamu Al Qur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Quraa (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri- negeri) sekelilingnya.." (QS Asy Syura 26:7)

Kata "Ummul Quraa" berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota disekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada disekelilingnya.
Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai arti yang penting dalam kultur Islam. Sebagaimana seorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini. Selain itu, kata "ibu" menjadikan Makkah unggul diatas semua kota lain.

MAKKAH ATAU GREENWICH..??

Berdasarkan pertimbangan yang seksama bahwa Makkah berada ditengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan oleh studi-studi dan gambar-gambar geologi yang dihasilkan satelit, maka benar-benar diyakini bahwa kota suci adalah Makkah bukanlah Greenwich yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. Hal ini akan mengakhiri kontroversi lama yang dimulai empat dekade yang lalu. Ada banyak argumentasi ilmiah untuk membuktikan bahwa Makkah merupakan wilayah nol bujur sangkar yang melalui kota suci tersebut, dan ia tidak melewati Greenwich di Inggris.
GMT dipaksakan pada dunia ketika mayoritas negeri didunia berada dibawah jajahan Inggris. Jika waktu Makkah yang diterapkan, maka mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu sholat.

MAKKAH ADALAH PUSAT LAPISAN LANGIT

Ada beberapa ayat dan hadits yang menyiratkan fakta ini. Allah berfirman;

"Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup melintasi penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan." (QS. Ar Rahman 55:33)

Kata "aqthar" adalah bentuk jamak dari kata "quthr" yang berarti diameter, dan ia mengacu pada langit dan bumi yang mempunyai banyak diameter. Dari ayat ini dan dari beberapa hadits dapat dipahami bahwa diameter lapisan langit itu diatas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika Makkah berada ditengah bumi, maka itu berarti bahwa Makkah juga berada di tengah lapisan-lapisan langit. Selain itu, ada hadits yang mengatakan bahwa Masjidil Haram di Makkah, tempat Ka'bah berada itu ada ditengah tujuh lapisan langit dan tujuh lapisan bumi.
Itulah pengertian mengenai ka'bah, semoga bermanfaat untuk anda dan kita semua.

Wassalamualaikum...


Sumber: Lindhip

fb_like.jpg

TIDAK ADILKAH ALLAH??

"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walau sebesar dzarrohpun dan jika ada kebajikan sebesar dzarroh niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yg besar"


Sobat, kalau kita membaca dan mengamati ayat ini kita dapat melihat kebesaran Allah, kemurahan-Nya. Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarroh dan jika ada kebajikan sebesar dzarroh niscaya Allah akan melipat gandakan...
Masihkah terpikir oleh kita Allah tidak adil??
Hanya karena masalah yang kita hadapi terasa berat, lalu kita refleks dan tanpa pertimbangan mengatakan Allah tidak adil??

"Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas kemampuannya"

Betapa Allah Maha Adil pada hamba-Nya sehingga tidak ada kesia-siaan amal baik dari hamba jika dikerjakan dengan ikhlas dan tidak bertentangan dengan syari'at.
Amal yang baik itu akan mendapat kebaikan walaupun sebesar dzarroh. Ayat ini berkaitan dengan suatu hadits yang panjang dalam beberapa kitab hadits.
Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al Khudri ra katanya

"Bahwa kaum muslimin pada zaman Rasulullah SAM telah bertanya, "Wahai Rasulullah adakah kami dapat melihat Tuhan kami nanti pada hari kiamat?" Rasulullah menjawab, "Ya, adakah kamu merasa sukar untuk melihat matahari pada siang hari yang cerah yang tidak ada awan? Adakah kamu merasa sukar untuk melihat bulan pada malam purnama yang cerah tanpa ada awan?" Kaum muslimin menjawab, "Tidak wahai Rasulullah.." Rasulullah bersabda, "Kamu tidak akan mengalami kesukaran dalam melihat Allah Ta'ala pada hari kiamat sebagaimana kamu tidak mengalami kesukaran untuk melihat salah satu dari matahari dan bulan. Apabila berlaku hari kiamat para penyeru yaitu para malaikat mengumumkan, "Setiap umat hendaklah mengikuti apa yang mereka sembah sewaktu didunia." Maka tidak akan kekal seorangpun dari mereka yang menyembah selain Allah yaitu berhala-berhala. Mereka akan dicampakkan ke dalam neraka sehingga yang tinggal hanyalah orang-orang yang dahulunya yaitu sewaktu didunia menyembah Allah, orang-orang yang baik orang-orang jahat dan sisa-sisa ahli kitab. Maka orang-orang Yahudi dipanggil dan ditanya kepada mereka, "Apakah yang kamu sembah sewaktu didunia?" Mereka menjawab, "Kami menyembah Uzair Ibnullah" lalu dikatakan kepada mereka, "Kamu telah berdusta" Allah tidak pernah menjadikan walau seorangpun sebagai teman yaitu isteri atau anak. Maka mereka telah ditanya, "Apa yang kamu inginkan?" Mereka menjawab, "Kami haus wahai Tuhanku! Berilah kami minum." Lalu diisyaratkan kepada mereka, "Tidakkah kamu inginkan air?" Lalu merekapun diiring beramai-ramai ke neraka. Neraka seolah-olah fatamorgana sebahagiannya menghancurkan sebahagian yang lain. Merekapun sama-sama terhumbankan ke dalam neraka. Kemudian dipanggil pula orang-orang Nasrani lalu ditanya kepada mereka, "Apakah yang kamu sembah semasa didunia?" Mereka menjawab, "Kami menyembah Al Masih anak Allah" lalu dikatakan kepada mereka, "Kamu telah berdusta! Allah tidak pernah menjadikan walau seorangpun sebagai teman yaitu isteri atau anak." Maka mereka telah ditanya, "Apakah yang kamu inginkan?" Mereka menjawab, "Kami haus wahai Tuhanku berilah kami minum." Lalu ditunjukkan kepada mereka, "Tidakkah kamu inginkan air?" Lalu mereka diiring ke neraka Jahanam. Neraka seolah-olah fatamorgana sebahagiannya menghancurkan sebahagian yang lain. Merekapun sama-sama dicampakkan ke dalam neraka sehingga yang tinggal hanyalah orang-orang yang dahulunya menyembah Allah Ta'ala, orang-orang baik dan orang-orang jahat. Maka Allah SWT Tuhan sekalian alam datang kepada mereka dalam bentuk yang lebih rendah daripada bentuk yang mereka ketahui lalu berfirman, "Apakah yang kamu tunggu? Setiap umat akan mengikuti apa yang dahulunya mereka sembah." Mereka berkata, "Wahai Tuhan kami didunia kami memisahan diri dari orang-orang yang menyusahkan kami yaitu untuk membantu penghidupan didunia dan kami tidak mau berkawan dengan mereka yaitu karena mereka menyimpang dari jalan yang digariskan oleh agama." Allah berfirman lagi kepada mereka, "Akulah Tuhan kamu!" Mereka berkata, "Kami mohon perlindungan daripada Allah kepada kamu kami tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatupun kedua kalinya atau ketiga kalinya sehingga sebahagian mereka hampir-hampir berubah yaitu kembali kepada kebenaran. Maka Allah berfirman, "Apakah diantara kamu dan Allah terdapat tanda-tanda yang membuatkan kamu dapat mengenali-Nya?" Mereka menjawab, "Ya!" Lalu disingkapkan keadaan yang menakutkan itu dan tiap orang yang hendak bersujud kepada Allah dengan keinginan mereka sendiri sudah pasti akan mendapat keizinan Allah sedangkan orang yang akan bersujud karena takut atau untuk memperlihatkannya maka Allah akan menyatukan belakangnya sehingga tidak dapat bersujud. Setiap kali hendak bersujud dia hanya dapat membongkokkan tengkuknya. Kemudian apabila mereka mengangkat kepala Allah pun telah berupa sebagaimana gambaran yang mereka lihat pertama kali tadi. Maka Allah pun berfirman, "Akulah Tuhan kamu." Mereka menyahut, "Engkau Tuhan Kami!" Kemudian dibentangkan sebuah jembatan diatas neraka Jahannam dan yang dibenarkan ketika itu hanyalah syafa'at dari rasul-rasul dimana mereka mengucapkan, "Ya Allah selamatkanlah selamatkanlah." Kemudian ada yang bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah apakah jembatan itu?" Rasulullah bersabda, "Ia merupakan lumpur yang licin. Padanya juga terdapat besi berkait dan besi berduri. Di Najd terdapat tumbuhan berduri yang disebut Sakdan. Maka seperti itulah besi-besi berkait tersebut. Kecepatan orang-orang mu'min melintasi jembatan tersebut ada seperti kedipan mata, seperti kilat, seperti angin, seperti burung dan seperti kuda atau unta yang berlari kencang. Mereka terbaagi menjadi tiga kumpulan selamat dan tidak mengalami apa-apa rintangan, selamat tetapi terpaksa menempuh banyak rintangan dan terkoyak serta yang terus terjerumus ke dalam neraka jahanam.
Pada saat orang-orang mu'min telah bebas dari adzab neraka maka demi dzat yang menguasai diriku yaitu diri Rasulullah niscaya tidak ada orang yang peduli dalam mencari kebenaran melebihi orang-orang mu'min yang mencari kebenaran dari Allah demi kepentingan saudara-saudara mereka yang masih berada di neraka. Mereka berkata, "Wahai Tuhan kami sesungguhnya dulu mereka berpuasa bersama kami menunaikan sholat dan mengerjakan haji." Lalu Allah berfirman kepada mereka, "Keluarkanlah orang-orang yang kamu kenal karena wajah-wajah mereka diharamkan atas api neraka. Maka ramai yang dapat dikeluarkan dari neraka. Ada yang sudah terbakar hingga separuh betis dan lututnya. Orang-orang mu'min itu berkata, "Wahai Tuhan kami tidakkah ada lagi yang tertinggal didalam neraka setelah Engkau perintahkan untuk dikeluarkan?" Allah berfirman, "Kembalilah siapa saja yang kamu temukan dihatinya ada kebaikan meskipun hanya seberat satu dinar maka keluarkanlah." Lalu mereka dapat mengeluarkan ramai manusia. Dan mereka berkata, "Wahai Tuhan kami, kami tidak tahu apakah masih ada di neraka seseorang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan." Allah berfirman, "Kembalilah siapa saja yang kamu temukan dihatinya ada kebaikan meskipun hanya seberat setengah dinar maka keluarkanlah!" Mereka dapat mengeluarkan banyak manusia lagi. Setelah itu mereka berkata, "Wahai Tuhan kami, kami tidak tahu apakah disana masih ada seseorang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan." Allah berfirman, "Kembalilah siapa saja yang kamu temukan didalam hatinya terdapat kebaikan meskipun hanya seberat dzarroh maka keluarkanlah." Bertambah banyak lagi yang dapat dikeluarkan. Kemudian mereka berkata, "Wahai Tuhan kami, kami tidak tahu adakah disana masih ada pemilik kebaikan." Sesungguhnya Abu Sa'id Al Khudri berkata, "Jika kamu tidak mempercayaiku mengenai hadits ini, maka bacalah firman Allah surat An Nisa ayat 40. Yang bermaksud, "Sesungguhnya Allah tidak mendzolimi seseorang walaupun sebesar dzarroh dan jika ada kebaikan sebesar dzarroh niscaya Allah akan melipat gandakannya serta memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. Allah berfirman, "Para malaikat telah meminta syafa'at, para nabi telah meminta syafaat dan orang-orang mu'min juga telah meminta syafa'at. Yang tinggal hanyalah Dzat Yang Maha Penyayang diantara semua yang penyayang. Lalu Allah merangkum dari neraka dan mengeluarkan sekumpulan orang yang sama sekali tidak pernah melakukan kebaikan. Mereka telah menyadari, kemudian mereka dilempar ke sebuah sungai dipintu surga yang disebut sungai kehidupan. Seterusnya mereka keluar seperti tumbuhan kecil yang keluar selepas dari banjir. Bukankah kamu sering melihat tumbuhan kecil dicelah-celah batu atau pohon, bagian yang terkena sinar matahari akan berwarna sedikit kekuningan dan hijau sedangkan yang berada dibawah tempat teduh akan menjadi putih? Para Sahabat menyahut, "Seakan-akan engkau pernah menggembala di gurun." Rasulullah lalu bersabda, "Lalu mereka keluar bagaikan mutiara. Dileher mereka terdapat kalung sehingga para ahli surga dapat mengenali mereka. Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan oleh Allah yang dimasukkan oleh Allah ke dalam surga tanpa amalan yang mereka kerjakan dan juga tanpa kebaikan yang mereka lakukan. Kemudian Allah berfirman, "Masuklah kamu ke dalam surga apa-apa yang kamu lihat itu adalah utk kamu." Mereka berkata, "Wahai Tuhan kami, Engkau telah berikan kepada kami pemberian yang belum pernah Engkau berikan kepada seorangpun diantara orang-orang diseluruh alam." Allah berfirman, "Di sisi-Ku ada pemberian untuk kamu yang lebih baik daripada pemberian ini. Mereka berkata, "Wahai Tuhan kami apa lagi yang lebih baik daripada pemberian ini?" Allah menjawab, "Ridho-Ku lalu Aku tidak memurkai kamu selepas ini buat selama-lamanya."




Sumber: Canova